Sabtu, 26 Maret 2011

Sejarah Singkat psikologi.


Sama seperti halnya ilmu-ilmu yang lainnya, psikologi telah mengalami berbagai perkembangan sejak dahulu hingga sekarang. Walaupun psikologi merupakan ilmu pengetahuan yang masih muda, namun orang di sepanjang sejarah telah memperhatikan psikologi.

Pada zaman sebelum Masehi pun, para filsuf telah membahas tentang jiwa manusia yang berisi diantaranya tentang pengertian, dalil, serta aspek-aspek kejiwaan manusia. Pada saat itu pengertian psikologi banyak dipengaruhi oleh aliran-aliran yang dianut sebelumnya oleh para filsuf masing-masing. Para ahli ilmu filsafat kuno, seperti Plato (429-347 SM) dan Aristoteles (384-322 SM) pun telah memikirkan hakikat jiwa dan gejala-gejalanya. Setelah masa Yunani, Santo Augustinus (354-430 M) dianggap tokoh besar psikologi modern karena perhatiannya pada introspeksi dan keingintahuannya tentang fenomena psikologi, termasuk perilaku bayi dan keramaian massa yang menonton pacuan kuda. Sedangkan Rene Descrates (1596-1650 M) yang terkenal dengan teori tentang kesadaran dan mengajukan teori bahwa hewan adalah mesin yang dapat dipelajari sama seperti mesin lainnya.
Banyak ahli filsafat terkenal lainnya pada abad tujuh belas dan delapan belas yaitu seperti Leibnitz (1646-1716) yang mengutarakan teori tentang kesejajaran psikofhisikHobbes, Locke (1632-1704) dengan teorinya yaitu tabula rasaKant, dan Hume yang memberikan sumbangan dalam bidang psikologi.

Di sini akan dijelaskan lebih lanjut tentang perkembangan psikologi dari masa ke masa berikutnya.
Psikologi Plato (429-347 SM) à Plato menyebut tentang jiwa sebagai bersifat immaterial, karena jiwa sudah ada sebelum masuk ke tubuh kita di alam para sensoris yang kemudian dikenal sebagai pre-eksistensi jiwa. Menurutnya, jiwa menempati dua dunia yaitu dunia sensoris (pengindraan) dan dunia idea (yang sifat aslinya berpikir). Karya-karya Plato antara lain buku Phaedo tentang jiwa dan keabadiannya sesudah mati dan Phaedrus tentang cinta. Sedangkan ajarannya yang terkenal ialah tentang idea.


Psikologi Arisroteles (384-322) à Dalam bukunya yang berjudul De Anima, Aristoteles mengemukakan macam-macam tingkah laku manusia dan adanya perbedaan tingkat tingkah laku pada organisme-organisme yang berbeda-beda. Berikut adalah tingkatan-tingkatan tingkah laku pada organisme :
a) Tumbuhan : memperlihatkan tingkah laku pada taraf vegetatif (bernafas, makan, tumbuh)
b) Hewan : selain tingkah laku vegetatif juga bertingkah laku sensitive (merasakan melalui pancaindra)
c) Manusia : bertingakah laku vegetatif, sensitive dan rasional.

Selain itu karya yang lainnya yaitu Parra Naturalia yaitu tentang esei-esei mengenai beberapa topik seperti sensasi, persepsi, memori, tidur dan mimpi.


Psikologi Rene Descrates (1596-1650 M) 
à Menurutnya manusia terdiri atas dua macam zat yang berbeda secara hakiki, yaitu res cogitans atau zat yang dapat berpikir, yang bebas tidak terikat pada hukum-hukum alam dan bersifat rohaniah, dan res extensa atau zat yang mempunyai luas, yang tidak bebas atau terikat, dan dikuasai oleh hukum-hukum alam. Sedangkan psikologi menurut Descrates adalah ilmu pengetahuan mengenai gejala-gejala pemikiran atau gejala-gejala kesadaran manusia, terlepas dari badannya. Ungkapan terkenal dari Descrates yaitu tentang cogito ergo sum yang berarti aku berpikir, jadi aku ada.


Psikologi John Locke (1632-1704 M) à Dalam konsep Locke tentang tabula rasaa, dia menyatakan semua pengetahuan, tanggapan, dan perasaan jiwa manusia diperoleh karena pengalaman melalui alat-alat indranya. Sedangkan dalam bukunya Essay Concerning Human Understanding, Locke mengemukakan bahwa kalau suatu benda dapat dianalisis sampai sekecil-kecilnya, demikian pula halnya dengan jiwa manusia.


Psikologi Leibniz (1646-1716 M) à Dia berpendapat bahwa hubungan badan dan jiwanya sebagai bersifat pararel. Badan dan jiwa berjalan sendiri-sendiri tetapi keduanya tunduk pada hukum-hukum yang serupa yang disebut sebagai hukum-hukum mekanika.


Psikologi David Hume (1711-1776 M) à Salah satu ucapan terkenalnya adalah “ Be a philosopher, but amidst all your philosophies, be still a man” (jadilah seorang filsuf, namun dalam berfilsafat, anda harus tetap seorang manusia). Tema sentral filsafat Hume pada intinya adalah pengalaman terdiri atas kesan dan ide. Ada prisip-prinsip tertentu yang memandu kita dalam mengasosiasi ide-ide, yaitu persamaan (resemblance), penghampiran (contiguity), serta sebab dan akibat.


Sumber : Klik Di sini

0 komentar:

Poskan Komentar

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Macys Printable Coupons